Beberapa waktu lalu kami (saya, Bu Susi dan Mas Rahmad) berkesempatan mengunjungi kompleks makam Raja-raja yang terkenal sangat fenomenal di wilayah Jogjakarta, tepatnya di daerah Imogiri.  Setelah memperoleh informasi yang cukup tentang kompleks makam di Imogiri beserta tata cara dan prosedurnya dari para abdi dalem di kraton, maka akhirnya pada hari Jum’at siang kami meluncur menuju selatan Jogjakarta. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 40 menit, akhirnya kami tiba di pintu gerbang makam. Di depan tampak ratusan anak tangga menjulang tinggi meningkatkan adrenalin dan menantang untuk didaki. Terbayang betapa banyaknya energi dan cucuran keringat yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh anak tangga tadi sampai ke puncak.

Akhirnya kedatangan kami disambut Pak Gito salah seorang abdi dalem yang bertugas menjaga dan memelihara wilayah pemakaman Imogiri, beliau bersedia menemani kami selama berada di kompleks ini. Setelah berdiskusi singkat tentang gambaran perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai di atas (tempat pemakaman utama). Menurut penjelasan Pak Gito jumlah anak tangga yang harus dilalui adalah sebanyak 504 buah, dan jarak total yang harus ditempuh adalah 800 meter……… walah jauh dan tinggi banget yach perjalanan ini!!.

Mengenai jumlah anak tangga di makam Imogiri tersebut banyak beredar mitos yang menyatakan bahwa jumlah anak tangga tersebut tidak dapat dihitung dengan akurat, karena setiap orang kalo menghitung jumlahnya pasti berbeda satu sama lain. Hal ini apabila dianalisis lebih mendalam sebenarnya bukan tidak mampu dihitung dengan akurat, tetapi lebih karena faktor menurunnya konsentrasi dan daya pikir seseorang akbiat kelelahan setelah mencapai ketinggian tertentu. Sehingga sangat dimungkinkan timbulnya beberapa kendala dalam menghitung jumlahnya.

Beberapa raja yang terkenal dimakamkan di kompleks ini diantaranya adalah Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, Raja Amangkurat I (putra Sultan Agung), Pangeran Djati Kusumo, Sultan Hamengko Buwono ke VII - IX, dan Mangkunegoro. Ide dasar dan konseptor pembangunan kompleks makam Astana Imogiri ini berasal dari Sultan Agung pada jaman kekuasaannnya (1613-1645). Menurut cerita yang berkembang kompleks pemakaman ini semula digunakan sebagai tempat Sultan Agung untuk melakukan semedi selama masa kekuasaannya, serta dibangun saat sebelum Sultan Agung wafat.

Untuk mencapai makam Sultan Agung, kami melewati 7 pintu gerbang, yang meliputi 4 pintu gerbang utama dan 3 pintu gerbang akhir yang langsung menuju ke makam beliau. Setelah melewati pintu gerbang makam keempat, para pengunjung makam diwajibkan untuk menggunakan pakaian adat kraton, yaitu baju beskap dan kain jarik lengkap dengan blangkonnya, sedangkan untuk wanita diwajibkan menggunakan pakaian adat kemben. Syarat lain yang wajib dipenuhi adalah dilarang menggunakan alas kaki, serta pada saat akan memasuki rumah kayu (tempat nisan makam Sultan Agung) pengunjung diwajibkan untuk jalan jongkok (laku ndodok - red istilah jawa), seperti pada saat acara pertemuan resmi raja di kraton (Pisowanan Agung).

Nisan makam Sultan Agung berada didalam rumah kayu yang berbentuk segi empat dengan 2 tingkatan selasar dan dilengkapi dengan 2 pintu utama yang selalu tertutup rapat. Pintu ini akan dibuka pada saat dan periode tertentu (biasanya hari Jum’at siang jam 14.00 - 15.00). Pembukaan pintu rumah kayu tempat Sultan Agung bersemayam tersebut dilakukan dengan membacakan tahlil dan tahmid serta pembacaan Yassin yang dipimpin oleh beberapa orang abdi dalem yang menjadi juru kunci.

Beberapa hal lain yang fenomenal dari makam ini adalah bahan kayu yang digunakan sebagai rumah makam (cungkup - red istilah jawa) berasal dari batang pohon secara utuh yang dibawa dari langsung Palembang - Jambi, yaitu kayu Bulian. Menurut penuturan dan cerita yang beredar di kalangan juru kunci menyebutkan bahwa tanah yang digunakan untuk menguburkan Sultan Agung sengaja dibawa langsung dari Arab. Hal ini karena beliau pada tahun 1641 memperoleh gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami yang diperoleh dari pemimpin Arab pada masa itu. (Menthoks)