Nusantara | Pustaka Budaya | Sumatra | Jawa | Bali & Lombok | Maluku | Kalimantan | Sulawesi | Papua | Register
 
Kamus Budaya
Direktori :
All | A | B | C | D | E | F | G | H | I | J |
K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z
 
Form Login
Username

Password



Jejak Harmoni Islam dan Hindu di Kampung Pulo

Salah satu obyek budaya yang disasar pada saat bulan puasa tahun ini adalah Candi Cangkuang dan Kampung Polu yang terletak di pulau kecil di tengah Situ Cangkuang yang berlokasi di Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Situ Cangkuang merupakan sasaran pertama kami dalam ekspedisi budaya di Priangan Timur. Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 km ke arah selatan dari Bandung – atau sekitar dua jam setelah keluar dari Pintu Tol Cileunyi - kami sampai di lokasi. Tiket masuk ke wilayah situs Cangkuang adalah Rp 3000 untuk dewasa dan Rp 2000 untuk anak-anak. Kami pun menyewa rakit terbuat dari bambu untuk menuju ke sebuah kampung adat yang bernama Kampung Pulo. Setelah sepakat dengan sewa rakit seharga Rp 80 Ribu, kami berlima sudah ada di atas rakit sambil menikmati keindahan alam.

13136020571511458747

 

Mitos di balik obyek budaya atau sejarah masyarakat adat sering mengemuka berdasarkan tradisi lisan atau cerita turun-temurun. Demikian juga dengan Kampung Pulo. Dan kami mendengar cerita tentang sejarah Kampung Pulo dari salah satu keturunannya. Alkisah Seorang panglima perang dari Kerajaan Mataram yang bernama Arief Muhammad melarikan diri setelah kalah perang dengan Belanda. Dalam pelariannya, akhirnya Arief Muhammad sampai di sebuah desa yang dihuni oleh masyarakat, yang ketika itu masih menganut Hindu. Menurut cerita, Mbah Ajeng Arief Muhammad  diterima oleh masyarakat setempat, dan lambat laun menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Nama Cangkuang sendiri diambil dari tanaman semacam pandan yang nama latinnya adalah Pandanus furcatus. Pohon Cangkuang tersebut masih tumbuh di Kampung Pulo.

13136021871549487827

 

Versi tentang terbentuknya situ Cangkuang disajikan pada laman Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Saya kutip informasinya sebagai berikut:

Embah Dalem Arief Muhammad serta masyarakat setempat yang telah membendung daerah ini, sehingga terbentuk sebuah danau dengan nama Situ Cangkuang. Setelah daerah ini selesai dibendung, maka dataran yang rendah menjadi danau, dan bukit-bukit menjadi pulau-pulau. Pulau tersebut antara lain Pulau Panjang (dimana kampung pulo ada), Pulau Gede, Pulau Leutik (kecil), Pulau Wedus, Pulau Katanda, dan Pulau Masigit

*****

Situ Cangkuang relatif lebih kecil dibandingkan Situ Bagendit yang juga berada di Garut. Danau tersebut seolah dikepung oleh empat gunung di setiap penjuru mata angin, yaitu gunung Guntur, Haruman, Kaledong, dan Mandalawangi.  Danaunya relatif dangkal yang dasarnya dapat disentuh oleh bilah bambu yang menjadi alat dorong rakit. Ketika menyusuri tepi danau, danau terlihat semakin dangkal dengan permukaan yang bertabur bunga teratai nan indah. Kayuhan bilah bambu panjang mencoba menghindar dari kepungan bunga teratai yang semakin banyak di pinggir danau yang berbatasan dengan perkampungan penduduk dan areal persawahan.

13136022911152835771

 

Sekitar 10 menit berakit, kami sudah menginjak kaki di pulau kecil setelah naik rakit bambu dari gedung pinggir jalan masuk yang merangkap sebagai kantor. Udara sejuk yang dibawa angir semilir dari hutan rimbun pun menyapa kami. Kami masuk ke area cagar budaya melalui jalan kecil yang melingkari pulau. Kami masuk ke tengah pulau dari belakang perumahan adat yang dikenal sebagai Kampung Pulo. Kampung Pulo hanya terdiri dari 7 bangunan utama, yaitu enam rumah tinggal dan satu mushola. Warga yang menghuni Kampung Pulo merupakan turunan dari Arief Muhammad, termasuk Pemandu Wisata yang menemani kami mengelilingi pulau sembari bercerita tentang sejarah dan adat-istiadat di Kampung Pulo. Jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam orang. Susunan letak rumahnya adalah tiga rumah disebelah kiri dan tiga rumah disebelah kanan yang saling berhadapan, ditambah satu mushola sebagai tempat ibadah yang berada di ujung sehingga perumahan adat tersebut seolah membentuk huruf U.

1313602393795550762

 

Anak yang sudah dewasa dan menikah harus meninggalkan rumah tempat asalnya paling lambat dua minggu setelah pernikahan. Mereka harus keluar dari lingkungan keenam rumah adat tersebut. Anak keturunan bisa kembali ke Kampung Pulo jika salah satu keluarganya meninggal dunia dengan syarat harus anak wanita. Beberapa adat lain yang diceritakan adalah larangan memelihara satwa berkaki empat yang – menurut pemandu wisata - dikhawatirkan dapat mengotori lingkungan; tidak diperkenankan untuk mempunyai dan menabuh gong yang dilatarbelakangi kematian salah satu putra Mbah Ajeng ketika pesta sunatan; serta larangan bekerja pada hari Rabu, yang dianggap hari baik untuk mempelajari agama.

*****

Kami selanjutnya beranjak ke bagian tertinggi pulau melalui tangga-tangga kecil dari Kampung Pulo. Jaraknya tidak lebih dari 50 meter. Bangunan Candi yang diperkirakan berasal dari abad ke-8. Candi yang relatif kecil yang ditemukan pada 9 Desember 1966 tersebut sudah terlihat sebelum kami mulai menapak di anak tangga pertama. Menurut informasi dari situs PNRI, setelah dipugar, Candi Cangkuang  mempunyai ukuran yang sesuai dengan keadaan alamnya. Tinggi bangunan sampai ke puncak atap adalah 8,5 m. Tubuh candi berdiri di atas kaki  berdenah bujur sangkar berukuran 4,5 X 4,5 m.  Atap candi bersusun-susun membentuk piramid. Sepanjang tepian setiap susunan dihiasi semacam mahkota-mahkota kecil. Dalam candi terdapat ruangan  seluas  2,2 m2 dengan tinggi  3,38 m.  Di tengah ruangan terdapat arca Syiwa setinggi 62 cm. Candi Cangkuang tersebut pertama kali dipugar pada tahun 1974 sampai 1976.

13136024832004655512

 

Candi Cangkuang bersanding dengan Makam Mbah Kanjeng Arief Muhammad. Arief Muhammad diperkirakan datang ke kampung Pulo sekitar abad ke-17. Pemandu kami tidak mau bercerita soal bagaimana Mbah Arief Muhammad berkeluarga berikut nama istrinya dulu. Yang jelas, semua anak-keturunannya menempati enam rumah di Kampung Pulo hingga kini.  Satu rumah atapnya dari daun enau ditempati oleh Kuncen atau juru kunci Kampung Pulo. Jumlah kuncen yang telah menjaga Kampung Pulo sampai sekarang adalah 8 kuncen, mulai H. Salim pada tahun 1882 sampai  Bapak Tatang Sanjaya yang mengemban kuncen dari tahun 1997 sampai sekarang. Enam rumah ditambah satu mushola tersebut tetap dipertahankan sampai keturunan yang ke tujuh sampai sembilan yang saat ini masih hidup, termasuk pemandu wisata yang menemani kami.

1313602964582869307

 

Selanjutnya, Kami masuk ke museum kecil yang terletak persis di depan makam Mbah Ajeng. Musem tersebut menyimpan dan mendokumentasikan beberapa cacatan dan peninggalan sejarah. Sejumlah naskah kuno yang ditulis pada serat kayu dari pohon Saeh dengan tinta dari sari air tape ketan hitam tersebut terlihat sudah lapuk dimakan usia. Naskah tersebut diperkirakan dari abad ke-17 seperti tertulis dalam keterangan pada dokumentasi masing-masing naskah yang tersimpan dalam lemari kaca sederhana. Ajaran-ajaran yang disampaikan dan ditulis Arief Muhammad dalam naskah-naskah tidak berbeda dengan apa yang kita dapatkan dari para ulama sekarang ini. Bukti ajaran tersebut dapat dilihat pada naskah kuno yang tersimpan di museum yang terlihat kecil dan sederhana. Naskah kuno dalam bahasa arab dan jawa tersebut di antaranya adalah naskah Al-Qur‘an, naskah fiqih, naskah macam-macam doa, naskah tauhid, naskah nahwu dan sharaf, naskah khutbah, serta naskah sastra berupa cerita patih.

 

*****

Semoga ada upaya penanggulangan terhadap kondisi naskah kuno yang lapuk tersebut. Naskah tersebut menjadi jejak sejarah yang berharga yang telah berumur empat abad. Sepanjang  waktu itulah Kampung Pulo menjadi bukti harmoni budaya yang tetap lestari hingga kini. <Budi Hermana)


[INFORMASI][VIDEO][AUDIO][EBOOK][PHOTO][ANIMASI][LOKASI]

Artikel Terkait

Register | Pustaka Budaya | Behind The Scene
copyright@pustaka budaya - Universitas Gunadarma