Nusantara | Pustaka Budaya | Sumatra | Jawa | Bali & Lombok | Maluku | Kalimantan | Sulawesi | Papua | Register
 
Kamus Budaya
Direktori :
All | A | B | C | D | E | F | G | H | I | J |
K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z
 
Form Login
Username

Password



Kandidat Warisan Dunia Terdampar di Sawah

  • Karawang dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat. Jangan heran jika area persawahan mendominasi luas Karawang yang dulu terkenal dengan goyang karawangnya. Tidak heran jika goyang karawang jarang ditemukan pada saat saya dan teman-teman mengarungi perjalanan ke pelosok di Karawang. Tradisi menari Jaipongan dengan suguhan goyang badan penarinya tersebut perlahan-lahan sudah jarang ditemui. Warga Karawang pun malah menolak sebutan itu menjadi judul sebuah film seronok. Lagian kami tidak bermaksud untuk melihat itu. Kami malah terheran-heran ketika melihat jejak budaya lain di Karawang. Sebuah situs  berupa tapak candi yang terhampar di tengah persawahan.

    1312020652880698382

    Setelah menuntaskan wisata budaya di sekitar Bandung, kami berempat langsung meluncur ke arah Jakarta. Keluar di pintu tol Karawang Barat, lalu menyusuri jalan pantura ke arah Bekasi. Untung terlihat papan petunjuk di sisi kiri jalan. Sasaran situs budaya  berikutnya ternyata berjarak masih 49 km lagi. Dengan dituntun oleh papan petunjuk berikutnya, mobil tua kami bergerak ke kota Rengas Dengklok, sebuah kota bersejarah di era proklamasi. Kami terus meluncur ke arah pantai utara, menyusuri daerah hilir Sungai Citarum. Anak sungai Citarum pun menemani kami di sisi kiri jalan ketika mendekati lokasi.  Perjalanan tersendat karena lalu-lintas yang menjelang sore. Bukan karena lalu lalang mobil pribadi dan angkutan kota saja, serbuan motor mendominasi jalan yang semakin menyempit. Setelah digoyang mobil tua selama dua jam,  akhirnya kami sampai di lokasi.  Mobil berhenti di gang kecil, lalu kami  berjalan kaki  menembus perkampungan penduduk. Tepat di pinggir kampung, kami langsung melihat salah satu candi, yaitu Candi Jiwa. Candi Jiwa bersama Candi Blandongan adalah dua candi yang pertama kali dipugar di Situs Batujaya.

    1312044581843138337

    Situs Batujaya pertama kali diteliti oleh Tim Peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya UI pada tahun 1984. Informasi tersebut dikutip dari Dokumen Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (PPAN) yang diunduh dari website Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata di sini. Area situs tersebut sekitar 5 km persegi. Sebuah area yang sangat luas untuk sebuah situs candi. Tidak heran jika pakar arkeologi mengatakan bahwa penemuan Situs Batujaya merupakan temuan situs terbesar di wilayah Asia untuk 50 tahun  terakhir. Jumlah tapak situs yang sudah ditemukan sampai saat ini adalah sebanyak 31 buah, yang diperkirakan berupa candi-candi yang tersebar di area persawahan. Tapak yang diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara pada abad lima atau enam masehi.  Tapak situs tersebut berupa sisa-sisa bangunan yang seolah terbenam di dalam tanah. Terbenam sekitar 16 abad. Sampai saat ini, kegiatan penelitian atau ekskavasi tapak masih terus berlangsung, namun terkesan intensitasnya masih rendah.

    13120470971265503440

    Sampai saat ini baru 4 titik yang sedang diteliti, atau lebih tepatnya digali untuk mengetahui wujud situs tersebut.  Dan baru dua candi yang terlihat wujudnya. Pemugaran Candi Blandongan pun tersendat dengan ditemukannya 6 fosil tengkorak manusis prasejarah pada tahun 2010. Kompas.com pun memberitakan temuan tersebut di sini. Temuan tersebut semakin menambah misteri Situs Batujaya yang menantang para pakar arkeologi dari dalam dan luar negeri. Tapak  lainnya masih berbentuk gundukan tanah yang muncul di tengah sawah. "Kadang gundukan tersebut tertutup jerami atau pohon pisang di atasnya", kata seorang Ibu yang rumahnya dipinggir sawah, berdekatan dengan Candi Jiwa. Rumah ibu menjadi tempat penginapan dua teman saya yang akhirnya bermalam untuk melakukan dokumentasi pada hari berikutnya. Memang di sekitar lokasi tidak ada penginapan, apalagi hotel berbintang.

    1312045938645796781Pada tahun ini Situs Batujaya telah didaftarkan sebagai Warisan Kebudayaan Dunia ke UNESCO, bersama dengan tujuh calon warisan budaya lainnya, yaitu Kompleks Candi Trowulan di Mojokerto, Kompleks Candi Muaro Jambi, Candi Muara Takus di Riau, Kawasan Pegunungan Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan, Bangunan Tradisional di Nias Selatan, Tana Toraja di Sulawesi Selatan, dan Lanskap Budaya Bali. Saat ini ada tiga situs yang sudah resmi menjadi warisan budaya dunia yaitu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Situs Prasejarah Sangiran. Beruntung saya bersama tim sudah mengunjungi lima diantaranya, termasuk Situs Batujaya ini. Seandainya Situs Batujaya resmi diakui sebagai warisan budaya dunia, semoga ada aliran dana hibah dari UNESCO dapat mempercepat  proses ekskavasi dan pemugaran Situs Batujaya.

    Sudah lebih dari seperempat abad sejak ditemukan, situs Batujaya masih saja berserakan di hamparan sawah yang hijau sepanjang mata memandang. Patut disayangkan jika upaya pemugaran harus menunggu keputusan UNESCO dahulu. Banyak pakar arkeologi yang menyatakan bahwa Situs Batujawa bisa menguak misteri dan tabir rahasia di zaman prasejarah dan  awal masehi. Penemuan berbagai benda-benda purbakala - seperti Fragmen Prasasti, Relief Budha, Fragmen Terakota, Fragmen Tembikar, Manik-Manik, bahkan fosil manusia dari yang diduga berasal dari periode prasejarah- menunjukkan Situs Batujaya teramat penting untuk ditelantarkan begitu saja. Hanya terdampar di tengah sawah saja. (Budi Hermana)

[INFORMASI][VIDEO][AUDIO][EBOOK][PHOTO][ANIMASI][LOKASI]

Artikel Terkait

Register | Pustaka Budaya | Behind The Scene
copyright@pustaka budaya - Universitas Gunadarma